Yoga Mahabharata. Oleh :
Ngarayana.
Siapa yang tidak mengenal Yoga atau meditasi? Orang boleh mengatakan
tidak mengenal Veda atau Hindu, tetapi sepertinya kepopuleran istilah
Yoga sudah merasuki semua strata manusia modern. Dewasa ini Yoga dikenal
dan diakui sangat efektif dalam menjaga vitalitas sehingga sangat
banyak orang-orang non Hindu dari berbagai kalangan mempraktekkannya.
Bahkan dewasa ini sering kali kita mendengar orang-orang membanggakan
Yoga dan menyatakan dirinya sebagai pengikut ajaran Yoga, tetapi
mengingkari sumber dari Yoga itu sendiri, yaitu Hindu.
Dalam
masyarakat Indonesia, yoga sudah dikenal luas oleh berbagai kalangan.
Kekawin Arjuna Wiwaha 11.1 menyebutkan kata Yoga dengan sangat jelas; “
Sasi
wimba heneng ghata mesi banu Ndanasing, suci nirmala mesi wulan Iwa
mangkana rakwa kiteng kadadin Ring angambeki YOGA kiteng sakala,
Bagaikan
bulan di dalam tempayan berisi air. Di dalam air yang suci jernih
tampaklah bulan. Sebagai itulah Dikau (Tuhan) dalam tiap mahluk. Kepada
orang yang melakukan YOGA Engkau menampakkan diri”. Jadi pada
dasarnya semua aliran kepercayaan yang menjadikan Yoga atau Meditasi
sebagai pegangan utamanya pada dasarnya adalah pengikut ajaran Veda.
Yoga
tidak hanya dikenal sebagai solusi kesehatan fisik, tetapi juga dikenal
sangat efektif dalam melatih mental dan kemampuan berpikir. Sebagaimana
disampaikan oleh peneliti di UCLA yang menggunakan
high-resolution magnetic resonance imaging
(MRI) untuk men-scan jaringan otak praktisi Yoga, didapatkan bukti
ilmiah akan keefektifan yoga dalam meningkatkan daya ingat, kontrol
emosi dan segala hal yang berkaitan dengan kesehatan mental. Sebagaimana
disampaikan dalam jurnal
NeuroImage yang dapat dikunjungi
secara online sebagaimana tertuang dalam link referensi dalam artikel
ini dilaporkan bahwa beberapa area otak pada praktisi meditasi lebih
besar dari pada orang yang tidak melakukan meditasi. Volume hippocampus
dan area dalam
orbito-frontal cortex, thalamus dan
inferior temporal gyrus
mengalami pembesaran yang cukup signifikan dimana semua area ini
dikenal sebagai area saraf pengendali emosi. Penelitian ini juga
menyimpulkan bahwa meditasi dapat mengurangi stres dan meningkatkan
imunitas tubuh.

Ironisnya
di saat ilmu pengetahuan modern mengakui keefektifan Yoga, segelintir
pihak yang terkungkung dalam fanatik sempit malahan menjustish Yoga
haram. NFC Malaysia mengatakan bahwa Yoga diharamkan bagi umat muslim,
karena dikatakan Yoga adalah produk agama Hindu. Sementara itu, Majelis
Ulama Indonesia (MUI) telah menggodok isu ini. Jawaban yang diberikan
oleh salah satu pimpinan MUI, Maruf Amin, dengan entengnya mengatakan: “
Melakukan
Yoga, adalah hak manusia Indonesia, tapi tugas MUI adalah memberikan
nasihat kepada masyarakat Indonesia, untuk melakukan hal yang benar.”
Tentunya apa yang disampaikan oleh kedua lembaga agama ini tidak murni
atas perhitungan sains dan filosofi semata, tetapi lebih dikarenakan
motif politik dan ketakutan kehilangan pengikut sehingga mereka harus
melakukan
black campaign. Meskipun demikian, pastinya
masyarakat tahu mana yang salah dan mana yang benar, sehingga praktek
Yoga hampir tidak terpengaruh oleh fatwa tersebut.
Namun demikian, apakah lingkup Yoga hanya sebatas kesehatan sebagaimana yang dipraktekkan saat ini?
Bapak dari sistem Yoga adalah
Maha Rsi Patanjali,
sehingga sistem Yoga yang original dikenal dengan sebutan “Patanjali
Raja Yoga”. Sistem Yoga yang dikembangkan oleh Rsi Patanjali juga pada
dasarnya tidak lepas dari sistem filsafat Samkya, yaitu salah satu
cabang filsafat Veda yang mengedepankan metode ilmiah dan disampaikan
oleh avatara Tuhan sendiri, Maha Rsi Kapila (Bhagavata Purana 1.3.10).
Sayangnya
jika kita telusuri apa yang disebut Yoga oleh orang-orang moden sangat
jauh berbeda dari sistem Yoga aslinya. Saat ini orang-orang hanya fokus
mempraktekkan tingkatan Raja Yoga yang ketiga dan yang keempat, yaitu
Asana (sikap duduk) dan
Pranayama
(teknik pernapasan) dan semata-mata hanya untuk alasan kesehatan, umur
panjang bahkan meningkatkan nafsu birahai semata. Walaupun secara
material bermanfaat, namun mereka tidak memahami tujuan utama dari
sistem Yoga itu sendiri.
Pada dasarnya Yoga berarti penghubungan
atau pengaitan jiva individuil dengan Yang Maha Kuasa, dengan kata lain
tujuan utama dari sistem Yoga adalah untuk menghubungkan diri kita yang
rendah dengan Tuhan Yang Maha Kuasa, bukan semata-mata hanya untuk
kepentingan kesehatan dan hal-hal material lainnya. Dengan demikian
syarat utama yang dimiliki oleh seorang calon praktisi Yoga adalah
kepercayaan akan adanya Tuhan. Seorang yang atheis tidak bisa mengikuti
sistem ini. Kalaupun dia mengikutinya, dia hanya akan mentok sampai pada
tingkatan asana dan pranayama yang tujuannya hanya sebatas kesehatan
fisik. Disamping itu, seorang praktisi Yoga juga harus memiliki dasar
moral dan disiplin tinggi. Meskipun dikatakan bahwa selama kita ada
dalam tubuh manusia, tidak perduli berapa umur kita, jenis kelamin dan
kondisi fisik, namun tanpa dasar moral yang baik dipastikan seseorang
tidak akan pernah bisa menapak sistem Yoga. Karena itulah dua tingkatan
pertama Raja Yoga adalah
Yama dan
Nyama Bratha. Seseorang yang masih memelihara sifat kejam, suka mabuk dan kejahatan-kejahatannya otomatis akan gugur dengan sendirinya.
Kedelapan tingkatan Yoga dikenal dengan istilah
Astangga Yoga. Kedelapan tingkatan tersebut adalah;
1.
Yama atau pantangan
2.
Nyama atau kebajikan pembantu
3.
Asana atau sikap-sikap tubuh
4.
Pranayama atau penguasaan nafas vital
5.
Pratyahara atau penyaluran aktivitas mental
6.
Dharana atau pemusatan pikiran
7.
Dhyana atau meditasi
8.
Samadi atau keadaan suprasadar transenden.
Tingkatan
pertama, Yama adalah merupakan pantangan yang harus dilakukan tanpa
kecuali. Gagal melakukan pantangan dasar ini maka seseorang tidak akan
pernah bisa mencapai tingkatan berikutnya. Penjabaran kelima Yama Bratha
(
Panca Yama Bratha) ini diuraikan dengan jelas dalam Patanjali Yoga Sutra II.35 – 39. Yaitu :
1.
Ahimsa atau tanpa kekerasan. Jangan melukai mahluk lain manapun dalam pikiran, perbuatan atau perkataan. (Patanjali Yoga Sutra II.35)
2.
Satya
atau kejujuran/kebenaran dalam pikiran, perkataan dan perbuatan, atau
pantangan akan kecurangan, penipuan dan kepalsuan. (Patanjali Yoga Sutra
II.36)
3.
Astya atau pantang
menginginkan segala sesuatu yang bukan miliknya sendiri. Atau dengan
kata lain pantang melakukan pencurian baik hanya dalam pikiran,
perkataan apa lagi dalam perbuatan. (Patanjali Yoga Sutra II.37)
4.
Brahmacarya atau berpantang kenikmatan seksual. (Patanjali Yoga Sutra II.38)
5.
Aparigraha atau pantang akan kemewahan; seorang praktisi Yoga (Yogin) harus hidup sederhana. (Patanjali Yoga Sutra II.38)
Sedangkan Panca Niyama Bratha yang merupakan tahapan kedua dan sebagai penyokong dari pantangan dasar sebelumnya diuraikan dalam sutra II.40-45. Yaitu :
1. Sauca,
kebersihan lahir batin. Lambat laun seseorang yang menekuni prinsip ini
akan mulai mengesampingkan kontak fisik dengan badan orang lain dan
membunuh nafsu yang mengakibatkan kekotoran dari kontak fisik tersebut
(Patanjali Yoga Sutra II.40). Sauca juga menganjurkan kebajikan Sattvasuddi atau pembersihan kecerdasan untuk membedakan (1) saumanasya atau keriangan hati, (2) ekagrata atau pemusatan pikiran, (3) indriajaya atau pengawsan nafsu-nafsu, (4) atmadarsana atau realisasi diri (Patanjali Yoga Sutra II.41).
2. Santosa
atau kepuasan. Hal ini dapat membawa praktisi Yoga kedalam kesenangan
yang tidak terkatakan. Dikatakan dalam kepuasan terdapat tingkat
kesenangan transendental (Patanjali Yoga Sutra II.42).
3. Tapa
atau pantangan. Melalui pantangan tubuh dan pikiran akan menjadi kuat
dan terbebas dari noda dalam aspek spiritual (Patanjali Yoga Sutra
II.43).
4. Svadhyaya atau
mempelajari kitab-kitab suci, melakukan japa (pengulangan pengucapan
nama-nama suci Tuhan) dan penilaian diri sehingga memudahkan tercapainya
“istadevata-samprayogah, persatuan dengan apa yang dicita-citakannya
(Patanjali Yoga Sutra II.44).
5. Isvarapranidhana
atau penyerahan dan pengabdian kepada Tuhan yang akan mengantarkan
seseorang kepada tingkatan samadhi (Patanjali Yoga Sutra II.45).
Kebalikan dari sepuluh kebaikan yang harus diwujudkan (Yama dan Niyama) disebut sebagai vitarka, yaitu kesalahan-kesalahan yang harus dengan teliti dijauhkan dan dihilangkan, yaitu:
1. Himsa atau kekerasan dan tidak sabar sebagai lawan ahimsa
2. Asatya atau kepalsuan sebagai lawan dari satya
3. Steya atau keserakahan sebagai lawan dari asteya
4. Vyabhicara atau kenikmatan seksual sebagai lawan dari brahmacarya
5. Parigraha atau kemewahan sebagai lawan dari aparigraha
6. Asauca atau kekotoran sebagai lawan dari sauca
7. Asantosa atau ketidakpuasan sebagai lawan dari santosa
8. Vilasa atau kemewahan sebagai lawan tapa
9. Pramada atau kealpaan sebagai lawan svadhyaya
10. Prakrti-pranidhana atau keterikatan pada prakrti sebagai lawan dari isvarapranidhana
Dengan
menempuh jalan kebaikan bukan berarti seseorang dengan sendirinya
dilindungi terhadap kesalahan yang bertentangan. “Jangan menyakiti orang
lain” belum tentu berarti “perlakukan orang lain dengan baik”. Kita
harus melakukan keduanya, tidak menyakiti orang lain dan sekaligus
melakukan keramah-tamahan.
Asana atau
sikap-sikap Yoga yang merupakan tingkatan ketiga dalam astangga Yoga
memberikan pondasi awal bagai seorang praktisi untuk mendapatkan jenis
asana yang cocok dengan kondisi badannya. Meskipun dalam Patanjali Yoga
Sutra dijelaskan ratusan jenis-jenis asana, namun Rsi Patanjali tidak
memaksakan untuk melakukan sikap-sikap yoga tertentu. Ia berpendapat
bahwa sikap manapun untuk menguasai pikiran, yang tidak terlalu memaksa
anggota badan dan yang dapat dipertahankan cukup lama oleh seorang
praktisi adalah baik baginya (sukha asana). Jadi tidak semua
sikap asana harus dikuasai dan dipraktekkan oleh praktisi. Adapun
pelatihan terhadap asana-asana tersebut untuk tujuan memilih sikap yang
paling tepat baginya dan sebagai pondasi dasar dalam menjaga kesehatan
badan dan mental sehingga mensupport kemajuan dalam tingkatan-tingkatan
selanjutnya.
Setelah menguasai asana, selanjutnya diikuti oleh tingkatan pranayama.
Pranayama tidak semata-mata mengacu kepada nafas masuk dan keluar dan
kaitannya dengan fenomena fisika-kimia, tetapi jauh lebih halus dari
itu. Proses menarik, menahan dan mengeluarkan nafas hanyalah gambaran
kasar dari prana. Chandogya VII.15.1 mengatakan; “Prana,
sesungguhnya melebihi harapan. Sebagaimana sesungguhnya ruji
dikencangkan pada pusat sebuah roda, demikianlah segala apa adalah
terikat pada prana. Prana berjalan bersama pada prana. Prana memberikan
prana. Memeberikan kehidupan pada mahluk yang hidup. Bapak seseorang
adalah prana. Ibu seseorang adalah prana. Saudara wanita seseorang
adalah prana, guru seseorang adalah prana, seorang Brahmana adalah prana”.
Sehingga dikatakan bahwa dengan penguasaan pernafasan yang merupakan
gambaran kasar dari Prana itu sendiri seseorang dapat mengendalikan
pikiran yang bergejolak, hawa nafsu serta kelemahan badan. Bahkan dengan
menguasai prana dengan baik, seorang praktisi dapat mengalami fenomena
metafisis yang tidak dapat dijelaskan oleh fenomena fisika biasa.
Keempat
sendi Yoga yang pertama, yaitu Yama, Nyama, Asana dan Pranayama adalah
termasuk persiapan atau dengan kata lain baru “kulit” dari Yoga itu
sendiri. Sedangkan keempat sendi berikutnya barulah merupakan arah
menuju inti Yoga itu sendiri.
Maha Rsi Patanjali mengatakan bahwa
tingkatan Yoga yang kelima, Pratyahara berkaitan dengan alat-alat
indria yang secara ilmiah hanya ditujukan untuk menikmati hal-hal
material. Seorang praktisi Yoga harus bisa mengendalikan semua
indria-indrianya ini. Mata sebagai indra penglihatan digunakan untuk
menikmati hal-hal yang spiritual, telinga untuk mendengar diarahkan
untuk mendengar nama-nama suci dan segala hal yang berkaitan dengan
spiritual, demikian juga dengan indra-indra yang lainnya, semuanya
ditarik dari kenikmatan duniawi dan diarahkan kepada kenikmatan rohani.
Berkaitan dengan ini, Patanjali Yoga Sutra II.54-55 menyebutkan; “sva-viæayâsamprayoge cittasya svarûpânukâra ivendriyâñâm pratyâhârai. tataï paramâ vaåyatendriyâñâm, Pratyahara
(atau penyaluran) terdiri dari pelepasan alat-alat indria dan
sensualitas masing-masing, dan dari penyesuaian alat-alat indria pada
bentuk citta atau pikiran yang murni. Dan dengan cara demikian orang
dapat memperoleh penguasaan penuh atas alat-alat indrianya”.
Tingkatan Pratyaksa ini hanya dapat dicapai jika keempat sendi Yoga
sebelumnya telah dikuasai dengan baik (Katha Upanisad III.13).
Dharana atau pemusatan pikiran adalah tingkatan Yoga yang keenam. Dalam Patanjali Yoga Sutra III.1 disebutkan “deåa-bandhaå cittasya dhâraña, menetapkan citta atau pikiran pada suatu tempat disebut dharana”.
Dharana dapat diibaratkan sebagai proses “mengetuk pintu” menuju
Samadhi sehingga praktisi yang telah menguasai dharana dengan sempurna
akan dengan sendirinya terarahkan menuju pada samadhi. Patanjali
menganjurkan agar pemusatan pikiran harus hanya ditujukan pada satu
objek kontemplasi, tat-pratiæedhârtham eka-tattvâbhyâsai (Patanjali Yoga Sutra I.32).
Sehingga dalam proses dharana seorang praktisi dapat bermeditasi dengan
memusatkan diri pada ujung hidung, pada berkas cahaya, aksara suci OM
atau hal-hal lain yang dibenarkan.
“puruæârtha-åûnyânâä guñânâm pratiprasavaï kâivalyaä svarûpa-pratiæøhâ vâ citi-åakter iti, peleburan
nilai-nilai dalam sumbernya, bilamana tiadalah apapun lagi yang perlu
dicapai, adalah pembebasan atau pemantapan kesadaran diri asli dalam
bentuknya sendiri yang sejati". Kini kita akan membahas tentang dhyana, yaitu peresapan atau penyelaman yang diperpanjang (Patanjali Yoga Sutra IV.34).
Penyelaman yang dimaksud dalam dhyana ini adalah penyelaman terhadap
sang diri, Jiva dan diri yang Agung, Tuhan. Sankaracarya dalam
kutipannya dari Yajnavalkya menyebutkan; “dhyanena-anisvaram guna, dengan dhyana dihilangkanlah segala apa yang ada diantara Jiva dengan Tuhan Yang Maha Esa”. Demikian juga dalam Samkhya Sutra disebutkan; “Dhyanam nirvisayam manah, dhyana adalah pembebasan citta dari segala ikatan”.
Jadi pada tingkatan dhyana ini, seorang yogin sudah benar-benar dapat
merasakan kehadiran Yang Maha Kuasa dan sudah siap mencapai kondisi
samadhi.
Diantara dhyana dan samadhi ada perbedaan mendasar
(renungan dan keadaan supra sadar transenden). Dalam keadaan renungan
(dhyana) pikiran seseorang merenungkan (dhyata), perbuatan renungan
(dhyana) dan tujuan renungan (dhyaya) ketiganya masih dibedakan, namun
dalam keadaan samadhi, ketiganya melebur menjadi satu. Jika diasumsikan
sebagai pelukis dan lukisannya, kondisi dhyana adalah kondisi dimana
sang pelukis masih berbeda dari gagasan tentang melukis dan keduanya
berbeda pula dengan lukisannya. Tetapi dalam kondisi samadhi, pelukis
tersebut begitu tercebur dalam karyanya sehingga ia, gagasan dan
karyanya lebur menjadi satu. Dalam keadaan samadhi, sang jiva berada
begitu dekat dengan Tuhan dan merasakan kebahagiaan luar biasa. Sehingga
setelah seseorang terbangun dari samadhi, pada dasarnya dia tidaklah
sama dengan sebelumnya. Ia menjadi berubah karena begitu lama berdekatan
dan berhubungan secara pribadi dengan Tuhan, ia mendapatkan tambahan
kehangatan (waranugraha atau ananda dan vijnana). Pada tahap ini
seseorang dapat dikatakan sebagai seorang Siddha dan memperoleh
kesaktian-kesaktian mistis tertentu sebagaimana sudah pernah saya
singgung dalam artikel sebelumnya tentang kesaktian Yoga.
Namun
tentunya tujuan terakhir dari Astangga Raja Yoga bukan semata-mata
mendapatkan siddhi (kesaktian) dan mencapai samadhi dalam arti sempit,
berdekatan dengan Tuhan hanya pada waktu meditasi dan setelah itu
kembali lagi ke kehidupan material. Tujuan tertingginya sudah barang
tentu mencapai kedudukan sat cit ananda yang kekal bersama Tuhan. Masalahnya, bagaimana seorang Yogin bisa mencapai tujuan tertinggi tersebut?
Patanjali Yoga Sutra I.23 menyebutkan; “îåvara-prañidhânâd va, Penyerahan diri (disebut juga bhakti) adalah jalan menuju kesadaran transendental”. Hal yang serupa juga ditegaskan dalam Patanjali Yoga Sutra II.1, II.32 dan juga II.45. Dalam Bhagavad Gita 2.50-51 dikatakan; “buddhi-yukto
jahātīha ubhe sukṛta-duṣkṛte tasmād yogāya yujyasva yogaḥ karmasu
kauśalam. karma-jaḿ buddhi-yuktā hi phalaḿ tyaktvā manīṣiṇaḥ
janma-bandha-vinirmuktāḥ padaḿ gacchanty anāmayam, Orang
yang menekuni bhakti membebaskan dirinya dari perbuatan yang baik dan
buruk bahkan dalam kehidupan ini pun. Karena itu, berusahalah untuk
yoga, ilmu segala pekerjaan. Dengan menekuni bhakti kepada Tuhan Yang
Maha Esa seperti itu, resi-resi yang mulia dan penyembah-penyembah
membebaskan diri dari hasil pekerjaan di dunia material. Dengan cara
demikian mereka dibebaskan dari perputaran kelahiran dan kematian dan
mencapai keadaan di luar segala kesengsaraan (dengan kembali kepada
Tuhan Yang Maha Esa). Bhagavad Gita 5.6 juga memberikan penegasan yang lebih eksplisit dengan mengatakan; “sannyāsas tu mahā-bāho duḥkham āptum ayogataḥ yoga-yukto munir brahma na cireṇādhigacchati, Kalau
seseorang hanya melepaskan segala kegiatan namun tidak menekuni bhakti
kepada Tuhan, itu tidak dapat membahagiakan dirinya. Tetapi orang yang
banyak berpikir yang menekuni bhakti dapat mencapai kepada Yang
Mahakuasa dengan segera, wahai yang berlengan perkasa. Kesemurnaan Yoga hanya dapat diperoleh oleh Yogin yang memusatkan dan menyerahkan dirinya pada Tuhan, praśānta-manasaḿ hy enaḿ (Bhagavad Gita 6.27).
Dan masih banyak lagi sloka-sloka Bhagavad gita yang menyatakan dengan
jelas bahwa Bhakti adalah puncak dari segala jalan. Setidaknya terdapat
sekitar 62 sloka dalam Bhagavad Gita yang menekankan aspek bhakti ini.
Bagaimana jika seorang yogin tidak menyerahkan dirinya (bhakti) pada Tuhan Yang Maha Esa?
Selama
seorang Yogin tidak menyerahkan diri dalam cinta Bhakti kepada Tuhan,
maka selama itu pula dia tidak akan mencapai moksa, sat cit ananda. Dia
hanya akan berputar-putar dalam siklus kelahiran dan kematian di alam
material ini. Bhagavad Gita 8. 25 mengatakan; “dhūmo rātris tathā kṛṣṇaḥ ṣaṇ-māsā dakṣiṇāyanam tatra cāndramasaḿ jyotir yogī prāpya nivartate, Seorang
yogi (ahli kebatinan) yang meninggal dunia selama masa asap, malam
hari, selama dua minggu menjelang bulan mati, atau selama enam bulan
pada waktu matahari berjalan menuju selatan akan mencapai planet bulan,
tetapi dia akan kembali lagi. “prāpya puṇya-kṛtāḿ lokān uṣitvā śāśvatīḥ samāḥ śucīnāḿ śrīmatāḿ gehe yoga-bhraṣṭo ‘bhijāyate, Sesudah
seorang yogi yang tidak mencapai sukses menikmati selama bertahun-tahun
di planet-planet makhluk yang saleh, ia dilahirkan dalam keluarga orang
saleh atau dalam keluarga bangsawan yang kaya” (Bhagavad Gita 6.41). “atha vā yoginām eva kule bhavati dhīmatām etad dhi durlabhataraḿ loke janma yad īdṛśam, Atau
(kalau dia belum mencapai sukses sesudah lama berlatih yoga) dia
dilahirkan dalam keluarga rohaniwan yang pasti memiliki kebijaksanaan
yang tinggi. Memang, jarang sekali seseorang dilahirkan dalam keadaan
seperti itu di dunia ini” (Bhagavad Gita 6.42).
Hanya
yogi, orang yang mempunyai keyakinan yang kuat dan selalu tinggal di
dalam kesadaran terhadap Tuhan, yang selalu berpikir tentang Tuhan di
dalam dirinya, dan mengabdikan diri kepada Tuhan dalam cinta bhakti
rohani mencapai kesempurnaan Yoga, dan Yogi seperti itulah yang menurut
Krishna, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa sebagai yang paling tinggi
diantara semuanya (Bhagavad Gita 6.47).
Jadi melakukan Yoga atau Meditasi tanpa ada rasa penyerahan diri dalam Bhakti kepada Tuhan adalah nonsense.
Sumber:
a. Swami Satya Prakas Saraswati, Patanjali Raja Yoga, Paramita Surabaya. 1996
b. Chip Hartranft, The Yoga-Sûtra of Patañjali Sanskrit-English Translation & Glossary, 2003
c. http://newsroom.ucla.edu/portal/ucla/how-to-build-a-bigger-brain-91273.aspx
d. http://clubbing.kapanlagi.com/showthread.php?t=32027